Pada suatu kesempatan aku mencoba memberanikan diri mengungkapkan perasaanku dengan Vera, waktu itu hari Minggu aku mencoba mengajak Vera untuk temuan, kuambil Hanphone ku yang berada di meja belajarku, lalu ku coba SMS Vera, satu demi satu tombol di HP ku tekan
“Pagi Ver, hari ini ada kegiatan ngga, kalau ngga ada kita makan siang yuks ditempat biasa, sekalian ada yang mau ku bicarakan padamu” demikian isi SMS ku yang ku kirim sama Vera, lama juga aku menanti balasan SMS dari Vera
Selang 10 menit kemudian HP ku berbunyi ku lihat di layer HP ku 1 pesan diterima, lalu ku buka dan ku lihat nama Vera tercantum dalam HP ku membalas SMS yang ku kirim tadi
“Ooo…kebetulan hari ini ngga ada kegiatan, emang kamu mau mentraktir aku ubur-ubur hutan” balasnya, dengan serta merta ku balas kembali SMS dari Vera, “Ok, aku yang traktir dech, gimana jam 10 nanti ku tunggu ya tempat yg kemarin” balasku
“OK ubur-ubur hutan” balasnya
Hampir saja aku melonjak kegirangan menerima balasan SMS terakhir dari vera, langsung saja ku ambil kunci kontak sepeda motorku dan segera bergegas menuju café tempat yang sudah ku janjikan akan bertemu Vera
Ada sekitar setengah jam aku berada di café tersebut Vera datang dan langsung menghampiri meja ku.
“Heii sorry ya telat lagi, pasti sudah lama nunggu ya,” Tanya nya
“Ahh enggak koq Ver, paling baru 2 gelas juice yang sudah habis” ucapku bercanda
“Yee, ketahuan nih bohong, sedangkan di meja kamu belum ada 1 gelaspun, atau kamu sengaja nunggu aku ya, biar minumnya bareng” ujar Vera kembali membalas candaku
“Hmmm iya sich, udah akh mau pesan apa” ujarku
“Aku mau mesan yang seperti kamu pesan boleh ngga?” Tanya Vera
“Yeeh ngga boleh dong, karena kan aku mau mesan hatimu Ver” candaku lagi
“O ya… kalau gitu kita saling pesan dong, Vera juga mau memesan hatimu” ujar Vera lagi
Seeerrrrrr hamper saja aku melompat kegirangan mendengar jawaban dari Vera.
“O ya, Tian tadi katanya mau ngomong sesuatu. Emang mau ngomong apaan” Tanya vera mengingatkanku
“Ooow, itu, Cuma sebelumnya aku minta maaf ya kalau ntar kata-kataku lancing, dan jika kamu ngga suka anggap saja aku ngga pernah ngomong apa-apa sama kamu” ujarku
“Ihh…pak wartawan ngomongnya diplomatis amat, sedangkan siamat aja jarang-jarang diplomatis, ayo cepat mau ngomong apa” ujar Vera
Dengan mengumpulkan keberanian ku akhirnya berkata
“Ver.. aku..aku..aku” ujar ku terbata-bata
“Iya kamu kenapa, koq tiba-tiba jadi gagu sih ubur-ubur” ujar Vera
“Hmmm Ver, aku Cuma mau katakana aku sayang kamu, dan maukah kamu menjadi pacarku” akhirnya kata-kata yang selama ini ku simpan dalam hati ku keluarkan setelah sekian lama kata-kata itu ku hafal. Waktu itu ku lihat mata Vera sedikit melotot
“Kamu serius Tian?” Tanya Vera
“Ya, aku serius” ujarku mantap
“Jika seperti itu apa yang kamu rasakan juga sama dengan apa yang aku rasakan” ujar Vera yang seakan membuat detak jantungku hamper berhenti sesaat
Dan Semenjak hari itu kami resmi pacaran, meskipun aku tidak berani menemuinya di rumahnya jika malam Minggu datang
Ketika kisah cinta kami sudah memasuki setengah tahun, aku membelikan sepasang cincin yang bertuliskan abjad nama kami, aku berencana Inisial nama ku akan kuberikan untuk Vera saat Ulang tahunnya nanti, sembari meminta agar kiranya dia mau menjadi pendamping hidupku, cincin sudah ku beli dan minggu depan dihari Ulang Tahunnya aku berniat memberikan cincin itu kepadanya, namun sebelum niat itu terkabul aku terkejut mendapat SMS dari Vera yang berisi
“Maaf Tian, sebenarnya Vera sayang dan sangat mencintai kamu Tian, namun sepertinya hubungan kita tidak bias diteruskan, karena keluarga Vera tidak merestui hubungan Vera, dan Vera akan di jodohkan dengan laki-laki pilihan keluargaku, sekali lagi Vera bingung harus bagaimana, di satu sisi Vera sangat sayang sama Tian dan disatu sisi Vera tidak bias melawan kehendak orang tua”
Ketika membaca SMS dari Vera aku berfikir dia bercanda padaku dengan gemetar ku telephone Vera dan dia mengangkat telephone dariku
“Assalamualaikum sayang, apa maksud SMS dari sayang tadi, sayang lagi bercanda kan” tanyaku gemetaran. Dan dari seberang sana ku dengar suara Vera seperti menangis.
“Tidak Tian, ini serius, keluarga Vera tidak mengizinkan hubungan kita, sebab orang tua Vera sudah menjodohkan Vera dengan Sakti putra dari teman relasi papa, Vera tidak bias berbuat apa-apa Tian” ujar Vera dari seberang sana sembari menangis
Mendengar ucapan dari Vera aku kecewa, lalu aku berupaya menanyakan kembali kebenaran yang dikatakannya Vera tadi.
“Sayank sedang bercanda kan?” Tanya ku kembali
“Tidak Tian,Vera tidak bercanda, malah pihak keluarga sudah menentukan waktu pertunangan kami, maafkan Vera ya Tian” ujar Vera dari seberang sana dengan masih terisak
Aku coba menenangkan diriku dan berkata “Tapi mengapa, apa alasan keluarga Vera makanya tidak merestui hubungan kita, apa karena status social, apa karena aku hanya seorang jurnalis yang belum tentu bagaimana kehidupannya kedepan” Tanya ku kembali
Vera tidak menjawab hanya isak tangis yang terdengar dari seberang sana
“Maafkan Vera ya Tian” Vera memutuskan pembicaraan
Aku yang penasaran mencoba berulang kali menelpon nomor Vera namun tidak aktif, keesokan harinya ku coba memberanikan diri menemui Vera namun Vera tidak bersedia untuk bertemu denganku
Semenjak hari itu, hari-hariku menjadi tidak bersemangat meskipun teman-teman sekantorku mencoba memberikan semangat kepadaku. Aku menjadi pendiam dan banyak bermenung dan sampai akhirnya Pimpinanku memanggilku keruang kerjanya dan menanyakan ada apa yang terjadi padaku
“Tian, kamu mengapa akhir-akhir ini tidak bergairah dalam bekerja, apa kamu ada masalah” Tanya Pimpinan ku yang sangat dekat kepadaku
“Ngga ada bang” ujarku sekenanya
“Kamu bohong Tian, Aku sudah tau gelagat kamu, karena kita disini adalah team” ujar Pimpinanku
Karena dipaksa akhirnya aku bercerita kepada Pimpinanku yang sudah kuanggap sebagai saudara ku di tempat ini
Mendengar ceritaku akhirnya Pimpinanku mengerti dan mencoba menghiburku
“ Sudahlah Tian, mungkin dia bukan jodohmu, kan masih banyak wanita lain yang menantimu, termasuk si Hanny kamu lihat bagaimana begitu pengertiannya Hanny kepadamu” ujar pimpinanku
“Iya bang” ujarku
“jadi ngapai juga kamu bersedih?” Tanya pimpinanku
Aku diam tidak menjawab
“ ya sudah jika seperti itu kamu harus refressing, besok kamu boleh ambil cuti dan ini surat izin dari abang, pergunakan waktu cutimu untuk merefresh kembali fikiran kamu, OK” ucap bang Imam pimpinanku
“Terima kasih bang”
Keesokan harinya aku benar mengambil cuti yang diberikan pimpinan kepadaku, seperti baiasanya aku pergi ke puncak jika hatiku sedang galau, Ku pacu sepeda motorku menuju puncak dan tidak lupa aku selalu membawa kamera kesayanganku untuk sekedar melepaskan hobby ku memfoto-foto pemandangan
Namun sesampainya aku di puncak aku masih selalu teringat sosok Vera, kenangan demi kenangan indah masih bermain di benakku.
Ku ambil kotak cincin yang berada disaku celanaku, ku perhatikan sejenak cincin itu yang bertuliskan huruf awal nama kami. Ku perhatikan cincin itu tak terasa tetesan bening jatuh dari pipiku.
“Aku sayang kamu Vera, tapi mengapa kamu tega meninggalkan ku begitu saja” bathinku sembari Membuang jauh-jauh cincin yang bertuliskan namanya jauh-jauh.
Aku terdiam cukup lama dan akhirnya dengan bergantinya hari aku tersentak dari lamunan panjangku. Dan ku pun berlalu dari tempat dimana ku telah membuang semua kenangan ku dengan Vera seiring dengan terbuangnya cincin yang ingin ku persembahkan kepada nya
Tamat.

Kisaran - Asahan - Sumatera Utara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar