Daftar Blog Saya

Rabu, 16 Februari 2011

CINCIN YANG TERBUANG (Cerpen Kisah Perjalanan Cintaku)



            Pukul 11.00 Wib aku mulai bersiap-siap untuk melakukan aktivitasku seperti biasa, tak lupa ku ambil ranselku yang berisi kamera Canon eos-350d dan juga laptop Acer beserta beberapa catatan agenda liputan beserta buku jadwal meeating Headline untuk besok. Ku keluarkan sepeda motor GL Pro yang sudah dua tahun ini menjadi sahabat setiaku mengantarkan kemanapun aku pergi. Ku engkol Sepeda motorku Brumm… lalu dengan mendengar lagu MP3 yang ada di memory Handphone ku ku pacu GL Pro kebanggaanku. Tak berapa lama aku sampai juga di kantor tempat aku setiap hari menghabiskan aktivitasku, baru saja ku duduk di kursi kerjaku, tiba-tiba Handphone ku berdering,
 “Hallo, selamat siang dengan Bastian disini, ada yang bisa saya bantu”, ujarku setelah tombol Ok di Handphone ku ku tekan.
“Ya Hallo, Tian kamu pergi ke Jalan Anyelir disana ada liputan seorang ibu yang trauma habis dirampok, tolong kamu ambil datanya ya, sorry jadi nyuruh kamu, soalnya aku ngga bisa kesana anakku lagi sakit” ujar si Penelepon yang tidak lain adalah rekan satu kerjaku Hendra.
“ Ok deh Hen’ ujarku
            Langsung saja ku ambil tas ranselku dan ku bergegas keluar untuk meliput sesuai arahan Hendra tadi.
“ Woii… Bro mau kemana, baru datang koq sudah pergi saja” ujar Hanny teman kerjaku yang paling jahil dan usil tapi sich sebenarnya baik hati
“ Udah ngga usah banyak tanya, kalau mau ikut yuk sekalian, aku ada liputan nih” ujarku
“ Ah sutra la kamu aja yang kesana ya, biar aku jaga gawang” ujar Hanny sembari memainkan sebelah matanya.
“ Ok deh Bawel, eh tu mata mu kenapa? Kelilipan ya” ujar ku sembari berlalu meninggalkan Hanny
“ Dasar loe ya Tian, eh jangan lupa ntar habis ngeliput bawa makanan ya” teriak Hanny
“ Seepppp,,…. “ ujarku seraya menggengkol GL Pro ku
            10 menit kemudian aku langsung sampai di lokasi seperti yang disebutkan Hendra, ku lihat disitu ada seorang perempuan setengah baya terduduk lesu sembari menangis.
“Selamat siang, saya Bastian dari Surat Kabar Citra Media, apa benar disini rumahnya Ny. Darsono” ujarku
“ Ya, bang” ujar perempuan itu perlahan, langsung saja jiwa jurnalisku terpacu dan langsung ku keluarkan Notes beserta pena didalam ransel ku, berselang sekitar 10 menit mewawancarai ibu muda ini tiba-tiba aku melihat seorang cewek yang sepertinya wajahnya tidak asing lagi dimataku keluar dengan membawakan segelas teh manis.
“Silahkan bang’ ujarnya kepadaku namun dia tidak melihat diriku, karena penasaran akhirnya ku beranikan menyapa cewek itu, ‘Hai kamu Vera ya” ujarku
Cewek itu langsung menoleh kearahku dan memperhatikan aku, mungkin dia lupa dengan aku “hmmmm kamu seperti teman kecilku dulu waktu SD, apa kamu Bastian ya” ujarnya
“Ya…aku Bastian, kamu Vera kan” ujar ku lagi
“ Iya….kamu ngapain disini” tanya Vera kepadaku
“ Aku dapat tugas dari tempatku bekerja untuk meliput peristiwa yang dialami ibu tadi pagi, dan kamu…” tanyaku
“ Ibu ini bibiku, adiknya ibuku’ ujar Vera
“ oww… oke deh Ver, berhubung tugasku sudah selesai, aku mau pamit dulu ya, biasalah mau menggarap ladang” ujarku sembari bercanda
“ Ok deh Tian, hati-hati dijalan, ntar kalau sudah sampai telpon aku ya” ujarnya kembali bercanda
“Upsss…telpon wah kebetulan nih” gumamku dalam hati
“Hmmm gimana mau nelpon kamu wong nomormu saja aku ngga tau” ucapku sekenanya
Ehhh ternyata ucapanku tadi direspons positif sama Vera yang waktu SD dulu merupakan cewek yang cerdas dan cakep dan bisa dikatakan bintangnya deh….(ups masih SD koq sudah tau bintang kelas) hehehehe
“Ya catat ya pak Wartawan ni nomor ku” katanya sembari menyebutkan angka-angka di nomor ponselnya.
“Cihuuuuyyy……gumamku dalam hati, akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan teman masa kecilku, wah ngga nyangka kini dia menjadi gadis yang cakep..ckckckc…” gumamku.
Kembali ku engkol sepeda motor ku dan menuju ke Base Cam tempat biasanya aku berkutat dengan aksara-aksara, iseng-iseng ku telpon nomor yang tadi baru ku dapatkan
“Selamat sore bisa bicara dengan mba Vera” ujarku membuka percakapan
“Sore kembali, dengan siapa ini ya” jawab suara lembut diseberang sana
“Aku Bastian, Cuma mau ngabari dan mau nepati janji kalau sudah sampai kantor ngabari kamu” ucapku
“Hmmm kamu bilang aja mau ngajak aku ngobrol” ujar Vera sekenanya
“Yee… jangan GR loe, kan aku Cuma nepati janji ku tadi” ujarku
“ hehehehe…..ya sudah kerja sana ntar kamu telat lagi buat Deadline” ucapnya dari seberang sana
“Oke dech, Cuma kapan ada waktu senggang aku boleh kan telpon kamu” ucapku
“ Boleh….asal tidak mengganggu pekerjaan kamu” ucap Vera
“ Seeeppp, thank’s ya…selamat sore” ujarku
“ Sore kembali’ ujar suara diseberang sana sembari mematikan pembicaraan kami
Dan semenjak hari itu kami sering SMS-an dan Telpon-telponan dan pada suatu hari kami berjanji ketemuan disebuah tempat yang ku anggap tempat paling romantais yang pernah ku kunjungi.
Waktu itu aku datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan, dengan pakaian kebesaranku kemeja garis-garis plus baju dalam warna hitam dipadu dengan jeans hitam dan sepatu putih aku datang ke lokasi yang sudah kami sepakati, ada sekitar 15 menit aku menunggu, sembari menghisap sebatang rokok Sempoerna yang selalu setia di saku celanaku. Baru setengah batang rokok ku hisap aku terpana melihat seorang wanita dengan berbusana casual menghampiriku
“Eh…sorry pak wartawan agak telat, sudah lama ya nunggu” sapanya
“Ngga koq paling ada sekitar 3 jam dech, ujarku seenaknya
“Dasar…. Wartawan bisa aja ngeles, bilang aja baru 3 menit” ujar cewek itu sembari menarik kursi tepat didepanku
Seeerrrrrr….jantungku tiba-tiba berdesar begitu melihat kecantikan alami teman kecilku ini…..
“Wooii… Kecebong laut, ngapai loe lihatin aku seperti itu, apa ada yang salah sama aku ya” ujar Vera
Aku tersentak saat itu “Eh…ng..ngga, kamu kelihatan cantik hari ini’ ucapku terbata karena malu sudah ketahuan memandangi Vera yang berada di depanku
“Dasar ubur-ubur hutan…awas lho kalau mandangi gitu terus, ntar kamu ngga bisa tidur kebayang aku terus” ujarnya
“Yeee…. Kalau bayangin kamu sich aku mau, tapi kalau bayangin bu Rohana oggah” ucapku.
Tak terasa kami berada di tempat itu sudah hampir dua jam, kami bercanda dan sesekali mengenang masa kecil kami
“Mas…berapa ini semua” ujar Vera kepada pelayan café tersebut
“Eh apaan sih ni Ver, ngga asyik la masa kamu yang bayar” ujarku
“Ya sutrala, kebetulan aku hari ini ada rezky, bagus uang mu kamu tabung buat melamar ntar” ujar Vera sekenanya
“ Ogah….pokoknya aku yang bayar” ujarku
Sempat terjadi adu argumen dalam membayar makanan dan minuman yang kami pesan, dan akhirnya Vera ngalah dan membiarkan aku yang membayar
“ Oke deh Ubur-ubur laut, kali ini kamu boleh traktir aku, besok-besok jangan harap deh, atau aku ngga mau makan bareng kamu” ujar Vera
“ Seeepp….. itu mah kesukaanku ditraktir, apalagi ditraktir sama cewek secakep kamu” ujarku
‘ yee….gombal, ya dah pulang yuk’s..” kata Vera sembari menggandeng lenganku
Seeeeeeeeeeerrrrrrrrrrr darahku waktu itu seakan mengalir kencang, dan dada ku dag dig dug seeeer…

Bersambung *******

 Kisaran - Asahan - Sumatera Utara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar