Malam usang di kubangan
memercik air di gemericik hujan
lalu sepasang mata sembab memerah
gerangan niskala telah menadah padanya
Selir waktu telah membaca akad pergantian masa di telinganya
meretas kidung asmaradana yang di lahirkan sisa hujan tadi siang
tergoleklah ia di anjungan angin yang merinding
membasuh betis kurus dari pikirannya yang sumbing
Duhai, duka laraku...
malam telah menawarkan kesunyian sebagai zirah airmataku
mengkhidmatkan batinku untuk menyenggamai labirin sepinya
sungguh tak ada teman yang setia padanya kecuali Tuhan dan doa para pengasih yang menyulam munajat kubra di sayap mudanya

Aku adalah jemarinya yang mengkerdil di pijak kerikil
yang mebakar obor bambu sebagai lampu suluh
di rusbang malamnya, sekebat mukenah melilit di tubuhnya
menemani jamuan malamnya yang di lamar rembulan setengah purnama.
Oleh : Shalya Shayra pada 03 Januari 2011 jam 23:28
memercik air di gemericik hujan
lalu sepasang mata sembab memerah
gerangan niskala telah menadah padanya
Selir waktu telah membaca akad pergantian masa di telinganya
meretas kidung asmaradana yang di lahirkan sisa hujan tadi siang
tergoleklah ia di anjungan angin yang merinding
membasuh betis kurus dari pikirannya yang sumbing
Duhai, duka laraku...
malam telah menawarkan kesunyian sebagai zirah airmataku
mengkhidmatkan batinku untuk menyenggamai labirin sepinya
sungguh tak ada teman yang setia padanya kecuali Tuhan dan doa para pengasih yang menyulam munajat kubra di sayap mudanya

Aku adalah jemarinya yang mengkerdil di pijak kerikil
yang mebakar obor bambu sebagai lampu suluh
di rusbang malamnya, sekebat mukenah melilit di tubuhnya
menemani jamuan malamnya yang di lamar rembulan setengah purnama.
Oleh : Shalya Shayra pada 03 Januari 2011 jam 23:28

Tidak ada komentar:
Posting Komentar