membanting kerincing sebagai rebana
adikku menari dan aku bernyanyi
nyanyian sumbang orang pinggiran
Tak usah heran bila hujan kami tak berteduh
payung kami memang langit
ranjang kami gundukan parit
jadi tak usah menangis bila kami pernah belajar mengeja di lampu merah
berselimut bekas airmata
membiasakan kulit di gurat luka
Duh, kakak...
pejalan memang arogan di tepian jalan
menyisakan recehan yang tak laku untuk makan
hanya jajan kerupuk tempe dan minum akua gelas
kami begini karena kami memang tak mau berkelas
Siapa bilang mimpi kami nihil, kak
aku saja ingin jadi dokter, adikku apalagi....
sayangnya ibu jenuh mengasuh kami
hingga ber ayah pada langit
dan ber ibu pada bumi
simpan saja cerita kami di sudut telingamu, kak
sebagai ode hati yang menggelitik nadi.
Lamputiga, Istana Maimun - Medan 04 Januari 2011 jam 11:39
Oleh : Shalya Shayra



Tidak ada komentar:
Posting Komentar