Daftar Blog Saya

Senin, 03 Januari 2011

Bocah Simpang Tiga

Sudah biasa duduk disini, kak
membanting kerincing sebagai rebana
adikku menari dan aku bernyanyi
nyanyian sumbang orang pinggiran



Tak usah heran bila hujan kami tak berteduh
payung kami memang langit
ranjang kami gundukan parit
jadi tak usah menangis bila kami pernah belajar mengeja di lampu merah
berselimut bekas airmata
membiasakan kulit di gurat luka



Duh, kakak...
pejalan memang arogan di tepian jalan
menyisakan recehan yang tak laku untuk makan
hanya jajan kerupuk tempe dan minum akua gelas
kami begini karena kami memang tak mau berkelas



Siapa bilang mimpi kami nihil, kak
aku saja ingin jadi dokter, adikku apalagi....
sayangnya ibu jenuh mengasuh kami
hingga ber ayah pada langit
dan ber ibu pada bumi
simpan saja cerita kami di sudut telingamu, kak
sebagai ode hati yang menggelitik nadi.

Lamputiga, Istana Maimun - Medan 04 Januari 2011 jam 11:39


 
Oleh  : Shalya Shayra

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar