telinganya tersumbat kotoran keangkuhan
matanya tertutup gelapnya tirai kekuasaan
hanya mulutnya yang mengumbar kata-kata
akulah sang penguasa adi daya
akulah sang raja digdaya
akulah sang pembuat hukum dari segala aturan
akulah sang penentu nasib dari semua jabatan

bathinnya masih berslimut kabut kesombongan
telinganya masih tersumbat kotoran keangkuhan
matanya masih tertutup gelapnya tirai kekuasaan
hanya mulutnya yang masih mengumbar kata-kata
akulah sang pemilik tafsir kebenaran
akulah sang penentu kebijakan
akulah tembok penahan perubahan
akulah pelindung atas kesetiaan
bathinnya masih juga berslimut kabut kesombongan
telinganya masih juga tersumbat kotoran keangkuhan
matanya masih juga tertutup gelapnya tirai kekuasaan
hanya mulutnya yang masih juga mengumbar kata-kata
aklahuauapnges rduajna
uakalhajra aeknbmosogn
lakhuaipseipnu luglnu
kauahlepicnru nesuysgnguha
demikianlah kata-kata terakhir terucap tanpa makna
bathinnya baru terbuka, sangat terlambat !
telinganya baru mendengar, irama syorgawi sudah berhenti !
matanya baru melihat, sudah tak ada lukisan indah lagi !
saat itu semua jejak telah meninggalkannya
semua wajah membencinya
semua ingatan melupakannya
dalam kesendirian tanpa puji-puja
Jakarta, 24-01-2011
Bem Simpaka



Tidak ada komentar:
Posting Komentar