Daftar Blog Saya

Kamis, 23 Desember 2010

Ibu, Mata Air Kasihmu Tak Pernah Surut, Meski Kemarau Tiba Menjemput

Ibu…
Tak pernah engkau mengeluh menjinjing berat
Saat kubernaung di laci suci rahimmu yang begitu hangat
Hingga purnama ke sembilan menatapmu lekat



Engkau karuniaiku kejutan yang istimewa ke dalam jiwa
Tuk bisa ku memandang
Selaksa pesona ruang yang lebih luas menghampar
Tuk bisa ku mendengar
Alunan nada dan irama nan merdu dan beragam
Tuk bisa ku mencium dan mengulum
Rupa-rupa aroma yang semerbak harum
Tuk bisa ku meraba
Lapisan-lapisan kebahagaiaan yang beraneka
Tuk bisa ku mencecap dan mencicip
Lezatnya hidangan kehidupan yang tersaji

Ibu…
Dengan segenap tulus dan ikhlas
Kau rawat aku penuh guyuran cinta
Kau jaga aku penuh kucuran kasih-sayang
Kau tuntun aku susuri jalan berliku
Menuju ridha Tuhan Yang Satu
Kau pandu langkah kakiku ini
Menuju terminal suci ilahi

Ibu…
Kaulah guru perdanaku yang paling berjasa
Memperkenalkan aku tentang nama-nama
Mengajariku santun bertutur-sapa
Dari mulai kata “mama”
Hingga berjuta kata bermakna lainnya



Ibu…
Tak pernah secuil pun kau mengharap balas
Atas limpahan jasamu yang tulus-ikhlas
Atas hujan pengorbananmu yang tak pernah tuntas
Tak kenal musim dingin pun musim panas

Sejatinya engkau adalah pecinta sejati buah hatimu saban waktu
Meski terkadang, bahkan kerap dengan atau tanpa sengaja
Belahan jiwamu ciderai sanubarimu yang mulus
Melebihi lembutnya kain sutera yang begitu halus

Ibu…
Maafkan anakmu
Yang terlampau sering menyusahkanmu
Di kala sehat, apalagi sakitku
Di kala mudah, apalagi sulitku



Ibu…
Lautan do’amu tak henti kudamba
Samudera kasihmu tak bosan kuharap
Sepanjang usia, sepanjang masa

Ibu…
Maafkan anakmu
Yang melulu merepotkanmu
Ketika senang, apalagi sedihku
Ketika senyum, apalagi tangisku

Ibu…
Lautan restumu tak jemu kupinta
Samudera ridhamu tak jengah kumohon
Seumur hidup dan matiku

Ibu…
Terimakasih atas segala hadiah istimewamu
Yang takkan pernah bisa terhitung
Oleh ukuran apa pun
Terimakasih atas semua anugerahmu terindahmu
Yang takkan pernah bisa terbalas
Dengan gelimang materi semewah apa pun

Ibu…
Terimakasih atas bendungan cintamu
Yang selalu deras mengalir
Menujuku dan segenap muara milikmu
Terimakasih atas mata air kasihmu
Yang tak pernah surut
Meski musim kemarau tiba menjemput


Karawang, 19 Desember 2010 (01.23 WIB)
Created By: Em Je

Tidak ada komentar:

Posting Komentar